SEJARAH DESA TEMPUREJO

     Desa Tempurejo merupakan desayang berdiri pada tahun 1939 pada zaman Pemerintah HIndia Belanda dengan sebutan Lurah Desa. Pada masa penjajahan Belanda, Lurah Desa selain melayani masyarakat juga ikut bergerilya berjuang bertempur melawan penjajah.

     Pada masa penjajahan, Desa Tempurejo terdiri dari 3 wialayah desa kecil yang masing-masing mempunyai lurah sendiriyaitu :

1.  Lurah Semi, meliputi 9 pedukuhan yakni : Jemblong, Tertan, Semi Lor, Semi Kidul, Ngandong Kulon, Ngandong Wetan, Tempuran Kulon, Tempuran Wetan, Babrik.

2.  Lurah Banjarsari, meliputi 6 pedukuhan yakni : Ngentak, Banjarsari, Turus, Banjaran, Krandegan, Bolobatur.

3.  Lurah Punduh, meliputi 5 pedukuhan yakni : Punduh I, Punduh II, Punduh III, Jambu I, Jambu II

     Baru kemudian setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1953 diadakan peleburan tiga desa tersebut dan kemudian diadakan pemilihan Kepala Desa secara langsung dan penghitungan suara menggunakan lidi (biting). Adapun Pawiro Wikarto adalah Kepala Desa Pertama terpilih, kemudian untuk mengenang perjuangan masyarakat desa melawan penjajah Belanda maka diberi nama Desa Tempurejo.

    Pada masa kepemimpinan Kepala Desa Pawiro Wikarto, Pemerintah Desa Tempurejo belum mempunyai kantor, dimana rumah Kepala Desa sekaligus menjadi pusat pemerintahan. Pada tahun 1980 pada masa pemerintahan Kepala Desa Suhadi diadakan penggabungan dukuh-dukuh menjadi 10 Dusun.

     Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat Desa Tempurejo :

1.  Pawiro Wikarto Tahun 1953 - 1973

2.  Suhadi Tahun 1973 - 1990

3.  Khumaidi Tahun 1990 - 1998

4.  Hisyam Ghozali Tahun 1998 - 2007

5.  Suharto Tahun 2007 - 2013

6.  Tolibun Tahun 2014 - 2019